Suatu hari izam seorang anak usia 9 tahun membawa makanan
begitu banyak, tanpa beban dia bawa makanan kerumah dan disimpanlah d atas meja
tempat biasa dia makan dengan orang tua dan ketiga kakaknya. Makanan dia
siapkan sendiri, tib-tiba buna datang dan langsung memarahinya
“ ngapain beli makanan sebanyak ini, siapa yang makan, kamu
mau menghabiskan makanan sebanyak ini”
izam mencoba menjawab
“kan,,di makan sama-sama bu... sama ibu, kakak, ayah juga”
“ibu lagi nggak makan pedas”
“ayah lagi sakit perut, sanah kasih kakak”
Izam mencoba mendekati kakanya yang sedang asyik mengtak-ngatik laptop kesayangannya
“Kak, sudah makan?”
“sudah d tadi, kenapa?”
“yah...kak ad beli makanan banyak ad bingung mau beliin makanan kesukaan Ibu akhirnya dibeli semua biar ibu suka, terus makan bareng-bareng dech.,,tapi ibu nya marah kak”
kenapa? Kan niat ade baik”
“marah..karena ad beli makanan sebanyak ini”
sepenggal kisah yang beiasa terjadi pada masa perkembangan dan pendidikan anak. Seringkali seseorang mungkin juga termasuk saya meremehkan kemempuan anak untuk berdialog dengan alam berfikirnya, seperti izam yang ingin membahagiakan orang tuanya, hal itu adalah hasil dialog antara panca inderanya dengan hati dan fitrahnya serang anak. Namun karena kita seringkali belum memehami bahwa perembangan anak berbeda dengan perkembangan orang dewasa. Jika c Izam ingn membahagiakan ibunya dengan apapun termasuk makanan tap orangtuanya ingin dia tidak menghambur-hamburkan uang karena makanan yang dia beli mungkin banyak di kulkas.^^
yah...solusi yang pernah dilakukan adalah dengan cara berdiskusi apa maunya anak, apa mau orang tua dan apa mau seharusnya. Namun yang perlu diperhatikan saat berdiskusi adalah penyampaian dengan menggunakan bahasa anak, dan ketika anak sudah bisa mendebat berati anak anda sudah mampu berfikir pada taraf C4 (haha...pinjem teori koognitifnya Bloom)bukan berati anak membangkang, tapi..
saya yakin ibu lebih mengerti bagaimana menjadi pertner....
“ayah lagi sakit perut, sanah kasih kakak”
Izam mencoba mendekati kakanya yang sedang asyik mengtak-ngatik laptop kesayangannya
“Kak, sudah makan?”
“sudah d tadi, kenapa?”
“yah...kak ad beli makanan banyak ad bingung mau beliin makanan kesukaan Ibu akhirnya dibeli semua biar ibu suka, terus makan bareng-bareng dech.,,tapi ibu nya marah kak”
kenapa? Kan niat ade baik”
“marah..karena ad beli makanan sebanyak ini”
sepenggal kisah yang beiasa terjadi pada masa perkembangan dan pendidikan anak. Seringkali seseorang mungkin juga termasuk saya meremehkan kemempuan anak untuk berdialog dengan alam berfikirnya, seperti izam yang ingin membahagiakan orang tuanya, hal itu adalah hasil dialog antara panca inderanya dengan hati dan fitrahnya serang anak. Namun karena kita seringkali belum memehami bahwa perembangan anak berbeda dengan perkembangan orang dewasa. Jika c Izam ingn membahagiakan ibunya dengan apapun termasuk makanan tap orangtuanya ingin dia tidak menghambur-hamburkan uang karena makanan yang dia beli mungkin banyak di kulkas.^^
yah...solusi yang pernah dilakukan adalah dengan cara berdiskusi apa maunya anak, apa mau orang tua dan apa mau seharusnya. Namun yang perlu diperhatikan saat berdiskusi adalah penyampaian dengan menggunakan bahasa anak, dan ketika anak sudah bisa mendebat berati anak anda sudah mampu berfikir pada taraf C4 (haha...pinjem teori koognitifnya Bloom)bukan berati anak membangkang, tapi..
saya yakin ibu lebih mengerti bagaimana menjadi pertner....